PT. LINKAR INDONESIA CENDEKIA
Jakarta, Indonesia.
Send Your Mail At
info@loop-indonesia.com
Maret 17, 2020 , Blog
‘COACHING’ IS BELIEVING

Saat membaca judul diatas, sebagian besar diantara kita tentu langsung teringat dengan sebuah idiom klasik yang sangat terkenal yaitu “seeing is believing”. Secara harfiah umum dapat dimaknai sebagai sebuah proses mendapatkan keyakinan setelah adanya proses melihat secara indrawi dengan menggunakan mata. Google menafsirkan idiom seeing is believing dengan kategori proverbia; you need to see something before you can accept that it really exists or occurs. Anda harus melihat sesuatu hal sebelum menerima bahwa suatu hal itu adalah eksis atau nyata terjadi. Dengan kata lain, Google sedikit menggeser idiom tersebut menjadi seeing before believing dan itu sah-sah saja. 


Seiring perjalanan waktu, pro dan kontra menyertai idiom tersebut dimana pandangan kontra mengaitkan dengan sebuah pemaknaan bahwa keyakinan dapat timbul tanpa harus melihat secara kasat mata khususnya dalam konsep Ketuhanan atau dalam istilah lain yaitu keimanan. 


Dalam tulisan singkat ini, penulis tidak bermaksud membahas secara khusus terminology idiom klasik tersebut apalagi pro dan kontra yang menyertainya. Melainkan hanya “meminjam” pemaknaan secara harfiah umum dari idiom tersebut yang dikatikan dengan makna penting dari sebuah proses coaching.

Info lebih lanjut mengenai sertifikasi coaching

 

Pengertian coaching menurut pemahaman penulis adalah sebuah proses komunikasi antara Coach dan Coachee dimana Coach memiliki peran diantaranya sebagai partner yang memfasilitasi seseorang (Coachee) untuk menemukan solusi dalam rangka mencapai tujuannya dalam berbagai hal, baik kehidupan, karir, bisnis, dan sebagainya. Dalam bukunya `The Inner Game of Tennis', Timothy Gallwey mengatakan bahwa proses coaching adalah overcome all habits of mind which inhibit excellence in performance - “menangani semua kebiasaan yang menghambat keberhasilan”.  


Banyak orang yang tidak menyadari adanya kebiasaan-kebiasaan yang menghambat keberhasilan dirinya.


Berikut pembahasan mengenai bagaimana memaksimalkan potensi seseorang.


Kalaupun tahu, belum tentu orang tersebut memiliki kemampuan untuk mendeteksi sumber penyebabnya atau bahkan menemukan solusi mengatasinya. Di sinilah seorang Coach dibutuhkan untuk membantu menggali sisi-sisi yang tidak terlihat oleh Coachee, membantu menemukan sumber penyebab kebiasaan tersebut, mendampingi Coachee menemukan dan menyadari situasi yang dihadapi serta menemukan kesadaran atas kemampuan dirinya yang selama ini tidak terlihat yang membangkitkan kepercayaan dalam dirinya.  


Tim Gallwey dalam bukunya tersebut secara tegas membedakan antara coaching dengan metode lainnya seperti training, mentoring, dll. Tim merasa penasaran melihat ketidakkonsistenan atlit pro-nya di lapangan dimana satu waktu bermain sangat baik dan di waktu yang lain bermain sangat buruk. Sampai satu ketika dia menemukan bahwa permainan (perilaku dan penampilan) seorang atlit di lapangan mencerminkan “permainan” dalam dirinya (inner game : pikiran, perasaan dan mood-nya). Bila seorang atlit mampu mengelola inner game-nya maka ia akan bermain dengan performa terbaiknya. Sebaliknya jika ia gagal mengelola inner game-nya maka performanya akan jauh dari potensinya. 


Hal ini dapat diartikan bahwa keahlian permainan luar (skill) hanyalah pintu masuk, dan yang menjadi penentu kemenangannya adalah permainan dalam (inner game), bukan diluarnya. Pada permainan tennis tingkat pro, kemampuan dasar maupun expert sudah pasti dikuasai oleh atlitnya. Untuk itu, fungsi Coach yang mendampingi atlit ini bukanlah mengajarkan hal-hal teknis melainkan memastikan sang atlit mampu meningkatkan kepercayaan dirinya dan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya di lapangan.  


Dalam bagian lain, Tim Gallwey mendefinisikan Coaching is unlocking a person’s potential to maximize their own performance, it is helping them to learn rather than teaching them - “Coaching membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan performanya, membantu mereka untuk belajar dan bukan mengajari mereka”. 


Dengan demikian, fungsi Coach dalam hal ini membantu menstimulasi Coachee untuk menemukan hal-hal yang belum/tidak disadarinya berkaitan dengan potensi yang membangkitkan sebuah kepercayaan diri dan motivasi untuk menunjukkan performa terbaiknya serta semangat yang tinggi dalam menghadapi situasi yang dihadapi. 


Pengalaman penulis baik sebagai Coachee maupun sebagai Coach adalah bahwa dalam proses komunikasi coaching yang terjadi, terkadang diawali dengan sebuah perasaan ragu malah skeptis bahwa coaching ini tidak akan berujung pada sebuah solusi.


Namun seiring berjalannya proses coaching yang dilakukan oleh Coach dengan teknik yang baik dan benar, serta proses mendengarkan dan bertanya yang tepat secara berangsur menumbuhkan keterbukaan (open minded) dan antusiasme dalam menyampaikan pandangannya yang berdampak pada timbulnya motivasi dan keyakinan dalam diri Coachee untuk menghadapi permasalahan dan atau mencapai tujuan yang diinginkan dengan opsi-opsi solusi yang diciptakan oleh Coachee sendiri. 


Dari beberapa contoh diatas, penulis merasa yakin untuk meminjam idiom klasik tersebut sebagai judul tulisan ini. Ide penjudulan ‘Coaching’ is Believing muncul dari pengamatan penulis atas cukup banyaknya fakta yang terjadi termasuk pengalaman empiris penulis, sehingga penulis merasa cukup yakin bahwa Coaching adalah sebuah solusi efektif untuk menumbuhkan kepercayaan diri dari sang Coachee dalam mencapai hal yang diinginkannya atau menampilkan performa terbaiknya. Keyakinan dan kepercayaan diri Coachee seringkali muncul setelah mengalami proses coaching yang efektif. Kalau sedikit memperluas definisi Google diatas, penulis ingin menyampaikan juga bahwa “Coaching-lah agar Anda meyakini adanya potensi yang luar biasa dalam diri Anda”.  

Latest Blog

(HOSPITAL) MANAGEMENT COACHING
Rumah sakit adalah instutusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yan...
‘COACHING’ IS BELIEVING
17
Mar
Saat membaca judul diatas, sebagian besar diantara kita tentu langsung teringat dengan sebuah idiom klasik yang sangat ter...
Sales Coaching ibarat melakukan tuning pada  Gitar untuk menghasilkan nada – nada indah  yang klop &
Gitar adalah salah satu instrument yang dapat menghasilkan nada – nada inda, siapa yang tidak mengenal alat musik yang s...