PT. LINKAR INDONESIA CENDEKIA
Jakarta, Indonesia.
Send Your Mail At
info@loop-indonesia.com
September 05, 2019 , Blog
Coaching sebagai Metode dalam Persiapan Pensiun

Pensiun adalah putusnya hubungan kerja antara karyawan dengan organisasi tempat bekerja pada saat karyawan sudah mencapai usia tertentu. Masa pensiun merupakan tahapan penting dalam kehidupan karyawan, sebab dengan tibanya pensiun berarti berakhir pula karir karyawan di bidang pekerjaan, berkurangnya penghasilan, serta bertambahnya waktu luang yang kadangkadang mengganggunya (Mu’tadin dalam Rosanti & Krisnansari, 2010).

Ada beberapa hal yang menimbulkan kecemasan bagi karyawan dalam menghadapi pensiun,
antara lain : 

  1. Berkurangnya penghasilan, yang semula memiliki penghasilan rutin, lalu kemudian berhenti ketika  memasuki  masa  pensiun.  Hal  ini  membuat  orang  tersebut  cemas  tidak  dapat mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya.
  2. Hilangnya  kepercayaan  diri,  karena  hilangnya  status  sebagai  pekerja.  Beberapa  orang  ada juga yang terkena Post Power Syndrome, yaitu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan, yang diikuti dengan menurunnya harga diri. \
  3. Berkurangnya  aktivitas,  sebelumnya  setiap  hari  bekerja,  lalu  aktivitas  tersebut  berkurang ketika memasuki masa pensiun.
  4. Sakit‐sakitan, karena usia menua dan keadaan fisik semakin menurun.

Beberapa  hal  di  atas  merupakan  contoh  kecemasan  yang  dihadapi  ketika  seseorang  menghadapi  masa pensiun. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka para pekerja perlu mempersiapkan banyak hal  agar  dapat  menikmati  pensiun  dengan  dengan  tenang.  Bagaimana  caranya?  Beberapa  perusahaan  memberikan  training  untuk  Masa  Persiapan  Pensiun,  akan  tetapi  metode  tersebut terkadang kurang efektif karena tidak sesuai dengan kebutuhan masing‐masing individu. Oleh sebab itu diperlukan metode lain, salah satunya adalah coaching.   


Apakah Coaching itu? 

Jika berbicara mengenai coaching, mungkin bagi beberapa orang memiliki pengertian yang berbeda‐beda.  Seringkali  istilah  coaching  dianggap  sama  seperti  mentoring  atau  training.  Ada  yang menganggap coaching seperti pelatih olahraga yang mengajarkan keahliannya kepada anak didiknya, atau  ketika  berada  di  dalam  setting  pekerjaan,  terkadang  coaching  dianggap  sebagai  salah  satu  pendekatan untuk menghadapi karyawan yang “bermasalah”. Padahal sebenarnya coaching sendiri justru  lebih  luas  dari  itu.  Menurut  beberapa  sumber,  maka  makna  yang  terungkap  dari  coaching 


sesuai  dengan  definisi  International  Coach  Federation  dapat  ditekankan dalam 3 hal, yaitu :  (Pramudianto, 2015)   


  1. Kemitraan, yang menunjukkan adanya kesetaraan antara coach dan coachee. Berdasarkan prinsip ini, maka coach berfokus pada tujuan dan mendukung coachee agar dapat mencapai hasil yang lebih baik dibandingkan coachee melakukan eksplorasi sendiri.
  2. Pemberdayaan. Proses memberdayakan pikiran berbeda dengan instruksi, mengarahkan atau memerintah. Memberdayakan pikiran berbentuk dialog, diskusi, tanya jawab yang bertujuan untuk memancing/ merangsang proses berpikir mendalam pada diri coachee.
  3. Optimalisasi. Peran coach disini tidak hanya memastikan coachee menemukan jawaban dari masalah ataupun tujuan yang ingin dicapainya, coach juga memastikan hal tersebut diterapkan oleh coachee melalui tindakan‐tindakan nyata, sehingga pada akhirnya mampu mengoptimalisasi potensi pribadi para coachee.

Dari poin‐poin di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam proses coaching, yang menjadi “raja” ialah coachee. Mereka yang menentukan apa yang ingin mereka raih dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut.


Lalu apa peran coaching bagi para pekerja yang hampir memasuki masa pensiun?


Justru ini kuncinya. Kembali lagi ke pengertiannya, maka coaching memegang peranan penting penting disini. Para karyawan ini dapat menggunakan metode coaching untuk mengidentifikasi apa yang sebenarnya menjadi perhatian (concern) dan kebutuhan mereka dalam menghadapi masa pensiun, apa tujuan dan harapan yang ingin dicapai, serta bagaimana menyusun rencana aksi untuk mencapai tujuan tersebut.


Idealnya, coaching dilaksanakan beberapa tahun sebelum memasuki masa pensiun dan menjadi salah satu program yang disediakan oleh perusahaan untuk para karyawan. Akan tetapi perlu diingat bahwa semua keputusan dan rencana aksi, semuanya berada di tangan coachee. Coaching hanyalah salah satu alat bantu dalam mengidentifikasi kebutuhan dan menyusun rencana aksi dan coach hanya berperan sebagai fasilitator untuk memastikan coachee tetap berada di jalurnya dalam melaksanakan tujuan tersebut.



Latest Blog

Coaching Mampu Meletupkan Potensi Diri Seseorang
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) dapat dilakukan melalui program Training, Mentoring ataupun Coaching, ketiganya mem...
Sukses Mewujudkan Mimpi dengan Coaching
Bermimpi adalah hak yang dimiliki oleh setiap orang. Anak kecil, orang dewasa, miskin, kaya, muda, tua, laki-laki, dan per...
Executive Coaching Peran Diorganisasi dan Pendekatan Dalam Assesment Center
Banyak para pemimpin eksekutif mengaku bahwa ketika mereka mencapai puncak karir di organisasi, mereka tidak lagi mendapat...