PT. LINKAR INDONESIA CENDEKIA
Jakarta, Indonesia.
Send Your Mail At
[email protected]
April 12, 2021 , Blog
Peran Coaching dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran: Mengambil Hikmah Pandemi COVID-19

Pandemi Covid-19 tak pelak menimbulkan banyak perubahan dalam berbagai bidang  kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Kebijakan karantina yang dilakukan pemerintah di  berbagai negara, termasuk Indonesia, menyebabkan seluruh institusi penyedia layanan  pendidikan mengubah bentuk pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring atau jarak  jauh. Sekolah atau institusi pendidikan lainnya yang terbiasa mengambil kontrol atas proses  pembelajaran siswa, kini beralih fungsi menjadi pemandu belajar jarak jauh (Siahaan, 2020).  

Banyak guru mengeluhkan kesulitan mengontrol proses belajar siswa karena tak berada  di tempat yang sama dengan para siswa. Termasuk keluhan para guru diantaranya, siswa yang  tidak konsentrasi selama pembelajaran via zoom, siswa yang tidur, tidak menyalakan kamera,  dsb. Kehadiran pandemi secara mendadak di seluruh dunia, menimbulkan ketidaksiapan semua  pihak menghadapi perubahan. Termasuk guru, siswa, dan orang tua. Apakah kini proses belajar  siswa masih efektif? Dan apakah selama ini proses belajar efektif, jika ternyata siswa tak bisa  belajar tanpa pengawasan langsung para guru? Apakah selama ini siswa belajar untuk guru, atau  untuk dirinya sendiri? 

Too much instruction makes young people too dependent on the teacher.” (Abbott &  Ryan, 2000 dalam Turnbull, 2009). Tampaknya selama ini proses belajar siswa sangat terpaku  pada instruksi guru dan sekolah. Siswa sebagai individu yang menjalani proses pendidikan dan  proses belajar kurang diberdayakan. Kita terlalu berfokus menyerahkan pendidikan ke tangan  “sekolah”. Kita lupa, bahwa pusat pendidikan bukanlah sekolah atau universitas, melainkan diri  siswa sendiri, sebagai individu yang menjalani pendidikan. 

Dampak krisis terhadap proses belajar dalam pendidikan akan berkurang, seandainya  selama ini kita sibuk merangsang kemampuan dan kemauan belajar dari dalam diri siswa serta  membantu siswa menjadi pembelajar mandiri, dan bukan sibuk “menyuapi” siswa dengan materi  dan target kurikulum semata. Pandemi ini mengajarkan kita untuk membantu siswa kita “belajar 

makan sendiri” dan bukannya terus “menyuapi”. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita  membantu siswa untuk menjadi pembelajar mandiri? 

Coaching adalah salah satu proses yang digunakan untuk membantu pengembangan diri  maupun organisasi yang berbeda dengan mentoring, konsultasi, dan training. International  Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai kerjasama (partnership) antara  klien dan coach dalam dialog untuk provokasi berpikir dan proses kreatif yang menginspirasi  klien untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalnya. Di Indonesia, coaching banyak  digunakan oleh perusahaan dan organisasi untuk mengembangkan organisasi maupun individu di  dalamnya. Sayangnya, masih sangat sedikit institusi penyedia layanan pendidikan yang  menerapkan coaching untuk memaksimalkan proses belajar siswa. Lantas, bagaimana coaching  dapat membantu proses belajar siswa? 

“Menyuapi” informasi kepada siswa terbukti bukan cara efektif untuk belajar. Sebagai  contoh, peringatan bahwa merokok merusak kesehatan telah diinformasikan disetiap iklan rokok.  Namun nyatanya, masih banyak remaja dan orang dewasa yang merokok. “Menyuapi” informasi  hanya memberikan sedikit efek dalam pembelajaran (Turnbull, 2009). Seseorang akan dapat  membuat pilihan yang tepat jika ia terlibat secara aktif dalam proses berpikir pada isu yang  terkait dengan dirinya. Proses berpikir secara aktif tidak terjadi ketika siswa “disuapi” informasi.  Coaching, sebaliknya, merangsang proses berpikir siswa dengan pertanyaan. Namun lebih dari  itu, coaching juga membangun kesadaran diri dan menggali potensi terdalam dari diri siswa  sehingga dengan itu, siswa dapat mengembangkan dirinya, tidak hanya dalam pelajaran, namun  juga dalam proses pengembangan dirinya secara utuh.  

Coaching membantu siswa dan individu untuk berpikir dalam tingkatan yang lebih dalam  dan lebih tinggi. Ketimbang menyuapi, seorang coach akan lebih berfokus untuk membantu  individu terlibat secara penuh dalam proses berpikir terkait dengan apa yang menjadi tujuan  individu tersebut. Jika dikaitkan dengan proses pendidikan secara umum, budaya coaching dalam  institusi pendidikan akan membantu mengubah pola pikir guru, dari “menyuapi” menjadi  “memberdayakan” siswa untuk menjadi individu pembelajar mandiri.


Baca juga: Coaching di masa pandemik


Artikel karya: Sulistami Prihandini, M.Si 


Referensi

Siahaan, M. (2020). Dampak pandemi Covid-19 terhadap dunia pendidikan. Jurnal Kajian  Ilmiah, 20(2), 1-3. Retrieved from  

http://repository.ubharajaya.ac.id/4842/2/Jurnal%20PANDEMIC%20MATDIO%20S.pdf Turnbull, J. (2009). Coaching for learning: A practical guide for encouraging learning. New  York: Continuum.


Latest Blog

Usir rasa Malas dengan Teknik KAIZEN
Negara Jepang terkenal dengan negara yang memiliki etos kerja dan disiplin yang baik. Tapi, apakah teman-teman loopers tah...
Konten Penjualan LAC
Leader adalah sosok yang bertanggungjawab pada kinerja serta pengembangan performa anggota tim kerja. Memastikan setiap tu...
Keunggulan Loop
Loop adalah institusi pertama yang membawa program coaching training berbasiskan International Coaching Federation ke Indo...